fbpx
Sale!

Perdagangan Lada Abad XVII

Rp60.000 Rp54.000

Saat mendengar kata rempah-rempah, orang umumnya akan mengarahkan pikirannya ke Kepulauan Maluku dan Banda. Dan apabila diminta untuk menyebutkan aneka macam rempahrempah yang berasal dari Kepulauan Maluku dan Banda, maka banyak orang tanpa berpikir panjang akan menyebut lada. Padahal, tempat tumbuh lada bukanlah di Maluku dan Banda, melainkan di bagian barat Indonesia.

Kekeliruan seputar daerah tumbuh lada secara tidak langsung menyiratkan betapa minimnya pengetahuan orang soal rempahrempah. Hal ini sangat disayangkan, mengingat perdagangan rempah-rempah adalah bagian yang tak terlepaskan dari perjalanan bangsa Indonesia.

Perdagangan Lada Abad XVII: Perebutan “Emas” Putih dan Hitam di Nusantara karya P. Swantoro secara jernih menunjukkan pentingnya memahami sejarah perdagangan rempah-rempah. Dengan data dan interpretasi yang kuat, buku ini mendedah perdagangan lada—komoditas yang nilainya paling tinggi pada masa itu. Lada, yang nilainya setara emas, diperebutkan oleh berbagai pihak, baik badan dagang Eropa maupun raja-raja di nusantara. Namun, perebutan itu bukan hanya menyangkut perdagangan, melainkan juga pemerintahan.

Judul: Perdagangan Lada Abad XVII
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Penulis: P. Swantoro
Halaman: 120 hlm
ISBN: 9786024810849
Berat: 150 Gram
Dimensi (P/L/T): 13 Cm / 19 Cm/ 0 Cm
Jenis Cover: Soft Cover

HARGA TOKO RP 60.000

Berat 150 g
Dimensi 13 × 19 × 1 cm

Ulasan

Belum ada ulasan.

Jadilah yang pertama memberikan ulasan “Perdagangan Lada Abad XVII”

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top